Produksi Maskot SEA GAMES Berkat PHK

Uang PHK 5 juta rupiah itu dimanfaatkan Anang Sujana untuk berbisnis bahan baku boneka. Berkembang memiliki 17 toko boneka, lantas bangkrut tergilas krisis ekonomi. Bermodal Rp 500 ribu kini ia mampu produksi 3.000 boneka perhari, hingga membuat maskot SEA Games 2011.

Sejalan dengan perkembangan zaman, gaya hidup dan kebutuhan aktualisasi, boneka menjadi salah satu produk yang banyak diminati masyarakat mulai dari kalangan anak-anak, remaja bahkan orang dewasa. Usaha boneka tak lekang oleh zaman karena penggemarnya dari berbagai kalangan dan usia. Boneka merupakan sebuah produk yang tak akan mudah rusak dimakan waktu.

Kerja keras dan keuletan mengantar Anang Sujana menjadi pengusaha boneka sukses. Di bawah bendera Hayashi Toys pengusaha boneka yang satu ini dipercaya untuk membuat maskot Sea Games 2011 ; boneka Modo Modi. Nama Hayashi yang diambilnya terinspirasi dari salah satu tokoh sukses di Jepang yang hijrah ke Amerika Serikat. Hidup Hayashi dipenuhi oleh perjuangan dan kerja keras. Ia merupakan pribadi dengan motivasi yang kuat, rajin, dan pantang menyerah. Tak heran, akhirnya ia menjadi orang sukses di Amerika.

Sukses Boneka Lelang

Hayashi Toys, adalah usaha Anang yang dimulai dengan bekal uang lima ratus ribu rupiah. kini, usaha itu telah mendatangkan omzet hingga ratusan juta rupiah. Menggeluti usaha pembuatan boneka ini tak pernah terpikir dalam benak pria kelahiran Bogor, 5 Juni 1969. Anang memulai usaha pembuatan boneka ini dengan menjual bahan baku boneka, yang ia peroleh dari pabrik boneka milik pengusaha Korea yang sudah berhenti beroperasi. “Dalam dua minggu saya bisa untung 250 juta rupiah, dengan menjual barang lelang pabrik,” ujarnya.Terlahir dari ayah seorang tentara dan ibu seorang penjahit, semasa hidupnya ayah Anang Sujana mendidiknya dengan keras ala tentara. Anang kecil terbiasa hidup kekurangan. Setelah ayahnya meninggal, kehidupan semakin sulit karena sang ibu harus membesarkan lima anak seorang diri. Pada masa sulit itulah, Anang terpaksa dititipkan kepada kakak-kakaknya untuk bisa disekolahkan.

Keterbatasan biaya tidak menghentikan langkah Anang untuk terus menuntut ilmu hingga perguruan tinggi. Selepas menyelesaikan sekolah menengah pertamanya di Bogor, Anang meneruskan sekolah lanjutannya di Bekasi dengan tinggal bersama kakaknya, dari kecil Anang sudah terbiasa jauh dari ibu dan saudara-saudaranya.  Selama melewati masa-masa sulit itulah Anang dituntut untuk bisa lebih mandiri dan menjadi pekerja keras, begitu pun, pendidikan yang sempat ditempuhnya sampai di Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi Kusuma Negara di Jakarta Timur itu tidak sempat diselesaikannya.

Anang mengadu nasib dengan bekerja apa pun asalkan halal. “Saya pernah bekerja di perusahaan bahan bangunan PT. Djabesmen. Tugas saya membersihkan sisa-sisa semen. Jadi office boya pun saya mau, yang penting mendapatkan pengalaman dari bermacam orang,” ucap pria yang memiliki hobi bermain futsal. Tidak begitu lama bekerja di perusahaan bahan bangunan, Anang kemudian beralih profesi menjadi pegawai staff gudang di salah satu perusahaan pembuatan boneka.

Namun untung tak dapat dibendung, malang tak dapat dihadang. Sudah suratan, setelah lima tahun bekerja, Sujana menjadi korban Pemutusan Hubungan Kerja (PHK). Usaha untuk bekerja di sebuah perusahaan otomotif  yang sesuai passionnya gagal meski sudah menjalani tes berkali-kali.

Digilas Krisis

Tapi inilah yang justru menjadi momentum bagi Sujana utuk terjun di bisnis yang ia kenal. Ia berjualan bahan baku dan limbah boneka. Pada 1995, dengan modal pesangon sebesar 5 juta dari perusahaan boneka, Sujana mulai menjual bahan baku pembuatan boneka dan boneka jadi yang dibuat oleh pihak lain. “Saya tidak pernah membatasi pekerjaan saya, walaupun pada waktu itu saya ditempatkan di bagian gudang, tetapi saya mengerjakan pekerjaan-pekerjaan lainnya juga dari proses pembuatan sampai proses finishing,” papar Anang.

Anang lantas menyewa sebuah toko kecil di Goro, Bekasi, yang ia beri nama Hayashi Toys. Tak disangka, bisnisnya lancar. Keuntungan dari usahanya itu dia putar lagi hingga ia mampu menambah menjadi 17 toko. Empat tahun kemudian, usaha Anang bangkrut dam memiliki tanggungan utang sebesar 50 juta rupiah. Krisis ekonomi pada tahun 1999 juta mematikan belasan toko boneka yang ia sewa di beberapa mal. Kondisi ekonomi yang berantakan membuat masyarakat takut menyambangi mal untuk berbelanja.

Lantaran harus melunasi utang sebesar itu, Sujana memeras otak. Tak cuma menjual bahan baku, ia ingin membuat boneka sendiri. Dengan modal awal 500 ribu, ia memproduksi boneka dibantu dua karyawan dan dua mesin jahit. Lantaran modal kurang, Sujana meminjam uang dari bank keliling yang bunganya cukup mencekik. “Pertama kali saya pinjam 5 juta,” tuturnya. Di tengah jaln, Sujana menambah pinjaman hingga 30 juta. Berkat ketekunan dan kegigihannya, usahanya kembali berbuah manis.

Rumah Sakit Gratis

Saat ini dengan total 86 karyawan yang bekerja di pabrik bonekanya, usaha pembuatan boneka Anang mampu memproduksi hingga 3.000 boneka per hari. Di area pabrik di Perum Rawa Lumbu, Bekasi, karyawan bekerja mulai pukul 8 pagi hingga 4 sore untuk melakukan proses produksi, mulai pemotongan kain, penjahitan, memasukkan dakron ke dalam badan boenka hingga finishing.

Hayashi Toys mampu memproduksi dan menjual ribuan boneka dengan beraneka model dan ukuran. Keunggulan boneka ini adalah harganya yang miring. Anang juga tak takut berinovasi dalam desain dan model. Bahkan, melihat permintaan boneka yang kian meningkat, pada 2009, Anang kembali memberanikan diri untuk membuka waralaba toko boneka Hayashi Toys yang menangani distribusi boneka di satu wilayah.

Kisaran harga boneka Anang dari 4500 sampai 1,5 juta. Beberapa boneka yang diproduksinya adalah boneka model panda, Angrybird, Shaun the Sheep, Spongebob, dan banyak lagi. Untuk boneka model baru yang tengah booming saat ini adalah boneka Emotion yang terdapat dalam Blackberry.

Yang membanggakan, mengikuti jejak sang ayah, anak-anak Anang pun merambah ke dunia bisnis. “Salah satu anak saya ada yang sempat mengambil kuliah di kedokteran, tidak sampai tamat tapi langsung berhenti untuk terjun ke dunia bisnis. Padahal saya tidak pernah menyuruhnya. Yang membuat sukses kan bukan karena setinggi apa pendidikan kita tapi karena tindakan yang kita ambil, “ujar bapak beranak lima ini. “Keinginan saya yang terbesar saat ini adalah ketika di usia 50 tahun saya ingin membuat rumah sakit gratis untuk masyarakat yang kurang mampu,” ungkap pria yang mengidolakan motivator Mario Teguh.

SUMBER : Majalah Elshinta

Facebook