Kegagalan Itu Penting dalam Berbisnis

Ia bukan pecinta boneka, tapi sukses menjadipengusaha boneka. Berkali-kali ‘jatuh’, tidak menjadikannya enggan untuk ‘bangkit’ kembali.

Berbisnis berarti belajar mengolah hati, kata Nana, seorang pria yang kini merasakan manisnya berwirausaha sesudah kenyang merasakan pahitnya “jatuh bangun” di dunia bisnis. “Mengolah hati berarti apa yang kita kerjkan, itu yangharus kita sukai. Banyak orang mencari sesuatu yang menjadi passion (kesenangan) mereka, supaya nanti lupa makan, lupa tidur, dan bahagia. Padahal, kesenangan itu (berasal) dari hati kita sendiri. (Menjalani sesuatu yang menjadi) passionnya, tapi kalau dia tak bisa mengolah hati, tetap saja tidak bahagia,” ungkap pria kelahiran Bogor, 5 Juni 1969 itu.

Nana bicara berdasarkan pengalaman. Sesungguhnya, passion Nana pada bidang otomotif. Apa daya, lamarannya ke beberapa perusahaan otomotif ditolak. Tak menyerah meski terpaksa ia lalu mengambil peluang yang datang padanya.

Ia memutuskan bekreja di perusahaan bahan bangunan PT. Djabesmen. “Tugas saya memersihkan sisa-sisa semen di tower atas. Kadang tangan bolong-bolong karena (mengerjakan ini) seharian, “jelas ayah dari Agin Bayu Nur Alam Hayashi, Dhea Hayashi Fazrin, Tiara Qonita Hayashi Fazrin, dan Zaskia Istiqomah Hayashi Fazrin ini.

Setelah empat bulan bekerja di sana, ia memilih pindah ke PT. Asiana Inti Industri (AII), produsen boneka. Meski kala itu ia bertugas di bagian gudang, Nana tak pernah membatasi pekerjaannya. Ia tak segan membantu rekan kerjanya di bagian lain.

“Dari sanalah, saya justru banyak belajar,” ungkap suami dari Dwi Yanti Wastini itu. Ia menjadi tahu seluk beluk bisnis boneka. Setelah beberapa tahun bekerja, ia mengalami peristiwa yang menjadi momok bagi para pekerja, yakni pemutusan hubungan kerja (PHK). Setelah melamar ke beberapa perusahaan tak mendapatkan hasil, Nana memutuskan menekuni sesuatu yang ia kenal: bisnis boneka.

Nana memulai bisnis limbah bahan baku boneka pada tahun 1995 dengan modal seesar lima juta rupiah dari pesangon yang ia dapat dari AII. Empattahun kemudian, usaha Nana bangkrut, Nana juga memiliki tanggungan utang sebesar 50 juta rupiah. Krisis ekonomi pada tahun 1999 juta ‘mematikan’ belasan toko boneka yang ia sewa di beberapa mal. Kondisi ekonomi yang carut marut membuat masyarakat takut menyambangi mal untuk berbelanja.

KEKUATAN KEPEPET

Dalam kondisi terpuruk, Nana tak punya pilihan selain bangkit kembali untuk berusaha. ” Yang paling bagus itu posisikan kita di posisi kepepet. Saat itu saya kepepet dan tak punya kemampuan lain selain bisnis boneka.” Maka, Nana bangkit kembali membangun bisnis boneka dengan modal Rp 500.000. Ia memulainya dengan menjual bahan baku boneka yang ia peroleh dari pabrik boneka milik pengusaha Korea yang sudah berhenti beroperasi. “Dalam dua minggu saya bisa untung 250 juta rupiah, dengan menjual barang lelang pabrik.”

Memang kelihatan tak masuk akal, namun itulah yang terjadi. Kata Nana, berbisnis itu harus dengan iman karena banyak hal yang terjadi tidak bisa dilogikan. Menurut Nana, iman akan menguatkan diri karena keyakinan yang tertanam dalam diri. Manusia hanya perlu memaksimalkan usaha dan sungguh-sungguh berdoa. Yang menentukan berhasil tidaknya adalah Sang Pemilik Rizqi, Allah Ta’ala. “Orang yang tidak beriman saja dikasih rizqi, masakita nggak dikasih?” tutur Nana.

Kata Nana, pijakan kaum Muslim adalah Al-Qur’an. “Itulah pijakan kita berusaha, maupun saat kita gagal. Kita hidup tinggal mencontoh. Tak ada hal yang terlalu istimewa. Yang istimewa adalah kuat tidaknya kita dalam menjalaninya secara istiqomah. Artinya, tetap memacu keimanan dan keyakinan bahwa itu bisa berhasil.”

GAGAL ITU PENTING

Sebagai pebisnis, Nana memang pantang menyerah. Ia sama sekali tak takut gagal. Bahkan menurut ia, dalam bisnis kegagalan itu penting. Karena dengan kegagalan, seorang pebisnis akan banyak belajar. Tak ada bisnis yang selalu berjalan mulus. Bagi Nana, saat seseorang memutuskan berhenti berusaha, itulah kegagalan yang sesungguhnya.

“Bisnis boneka atau bisnis apapun hanyalah alat. Sesungguhnya, kita harus mengerti makna hidup itu mau ngapain. Sepanjang kita hidup, asal erusaha dan bekerja, di bidang apapun, akan menghasilkan sesuatu yang menggiurkan. Saya pikir, kenapa kita berhenti kalau hanya sekali atau dua kali gagal.” Karena menurut Nana, banyak orang hebat yang mengalami ratusan kali kegagalan tidak berhenti berusaha hingga akhirnya mereka mengecap kesuksesan.

Mengenai sikap pantang menyerah, Nana sangat terinspirasi oleh karakter tokoh film Hayashi. Hayashi merupakan orang Jepang yang hijrah ke Amerika Serikat. Hidup Hayashi dipenuhi oleh perjuangan dan kerja keras. Ia merupakan pribadi dengan motivasi yang kuat, rajin, dan pantang menyerah. Tak heran, akhirnya ia menjadi orang sukses di Amerika.

Sikap pantang menyerah Nana juga sesungguhnya tak terlepas dari latar belakang keluarganya yang miskin. Ayahnya tentara dan ibunya berprofesi sebagai ibu rumah tangga. Setelah ayahnya meninggal, sang ibu membesarkan lima anak seorang diri. Saking miskinnya, Nana dititipkan kepada kakak-kakaknya untuk bisa sekolah. “Meski kakak-kakak saya juga bukan orang berada.”

Karena ingin sekolah, umur tujuh tahun Nana sudah hidup terpisah dari orangtuanya. Ia menimba ilmu di pesantren di daerah Bogor hingga SMP. Ketika menginjak SMA, ia juga hijrah ke rumah kakaknya di Bekasi, Jawa Barat. “Saya benar-benar ditempa oleh kehidupan harus mandiri. Bersyukur, ‘ketidakberadaan’ saya itulah yang membuat saya bisa bertahan, bersaing, dan bisa menahan rasa sakit, rasa lapar, menunda kesenangan dan kebahagiaan lebih lama. Kalau orang hidup susah, tak ada lagi pilihannya selain berusaha. Karena yang bisa mengubah nasib adalah upaya,” tegas pria yang tak sempat menamatkan studinya di Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi Kusuma Negara, Cijantung, Jakarta Timur.

SENANG BERAGI

Berbincang dengan Nana sungguh membangkitkan motivasi. Ia memang orang yang senang berbagi ilmu maupun pengalaman. Tak heran, website maupun akun twitter-nya penuh pengunjung dan follower. Ia senang menebar ‘virus’ bisnis agar orang lain juga tertarik memulai bisnis. Berbagi menjadi penting karena Nana tak ingin melihat penting karena Nana tak ingin melihat bangsa ini terpuruk. “Kalau ingin mengubah dunia, bukan dunia yang berubah. Tapi sikap kita yang diubah. Mulai dari diri sendiri, orang terdekat, dan siapapun yang bisa kita tulari ‘virusnya’.”

Bagi Nana, bisnis sangat menarik karena sangat dinamis. Menurut ia, seorang pebisnis harus bisa ‘melihat’ dan ‘membaca’ realitas keseharian, dinamika kehidupan, dan mampu menyelesaikan masalah. Dalam bisnis, satu tambah satu hasilnya tak harus dua, bisa seratus bahkan seribu. “Jadi, orang mau bilang bisnis itu harus pakai passion, boleh. Tidak pakai passion, juga boleh. Terserah saja, tidak ada rumus baku dalam bisnis. Pada akhirnya, setiap orang punya cara masing-masing untuk berhasil.”

Menurut Nana, dari sekian banyak curhatan maupun pertanyaan yang diajukan padanya, banyak yang sebenarnya urusan sederhana. Namun, kebanyakan orang berpikir terlalu rumit. Banyak orang bingung meulai usaha, padahal yang harus dilakukan hanyalah beraksi. “Kalau sedekah, tak perlu nunggu ikhlas, mulai saja sedekah. Kita membangun bangunan dari fondasi paling bawah. Maka, berusaha itu jangan langsung ke tingkat tinggi. Mulailah dari bawah, dari yang paling sederhana supaya fondasi kita kuat,” ujar penyuka sepak bola dan tenis itu.

OMSET MILIARAN

Seiring berjalannya waktu, bisnis boneka Nana yang diberi label Hayashi Toys kian berkembang. Selain menjual bahan baku pembuatan boneka, Nana mulai coba memproduksi boneka dengan dua mesin jahit dan dibantu dua karyawan. Kemudian berkembang menjadi 30 buah mesin jahit. Nana yang sebelumnya hanya mampu mengontrak rumah, mulai mampu membeli rumah.

Dalam waktu dua tahun ia bisa membeli tiga rumah yang kemudian ia jadikan sentra produksi boneka. Kini, omzet Hayashi Toys per bulan mencapai miliaran rupiah. Karena, selain produksi Nana juga membuka program kemitraan. Dengan karyawan sekitar 108 orang, Hayashi Toys memproduksi tiga ribu buah boneka per hari. Oh ya, tahun lalu Hayashi Toys mendapat order produksi sembilan ribu boneka Modo Modi, maskot Sea Games 2011.

Dengan apa yang sudah ia dapat, sudah sukseskah Nana? Dengan mantap, Nana menjawab: belum. Baginya, orang yang merasa berhasil adalah orang yang sudah tidak berbuat apa-apa lagi. Seolah-olah apa yang sudah dihasilkan merupakan kesuksesan. Sementara Nana merasa masih perlu melakukan upaya semaksimal mungkin untuk mencapai hasil yang lebih tinggi.

“Dalam bekerja yang dinilai bukan karena dia pintar atau sekolahnya tinggi, tapi karena dia berusaha. Nah, untuk orang beriman ada sedekah, shalat dhuha, berbagi dan sebagainya. Itulah yang membuat orang beriman lebih kuat dan (rizqinya) bernilai berkah. Dalam Islam ada petunjuk tentang cara mencari uang sehingga rizqinya barakah,” ujar pria lulusan SMA itu. Agaknya itu yang membuat Nana tak suka mengikuti tender. Ia tak mau didikte oleh konsumen atau pembeli. Padahal, banyak pengusaha yang rela ‘meng-entertain’ pihak pembeli agar menang tender.

SISTEM KEMITRAAN

Ujian dalam bisnis kembali dialami Nana pada tahun 2009. Ia bangkrut untuk kali ke dua karena ditipu oleh mitra bisnisnya. Miliaran rupiah uangnya raib. Setiap kali menghadapi masalah, Nana percaya bahwa itu terjadi karena ada komunikasinya denga Allah Ta’ala yang tak nyambung. “Sudah dikasih tahu kok nggak sadar-sadar dan nggak peka,” tandas Nana.

Masalah keuangan bisnis itu justru membuat Nana kreatif. Ia menggagas sistem kemitraan yang disebut dengan BO (business opportunity) untuk menghasilkan ‘dana segar’ bagi bisnisnya. Bentuknya bermacam-macam, seperti mitra toko, mitra produksi, mitra finishing, dan mitra Hayashi mobile. Untuk info lebih lengkap silahkan buka www.anangsujana.com

Kata Nana, tantangan berat yang dialami produsen boneka saat ini adalah soal bahan baku. Perkembangan produsen boneka yang cukup pesat sayangnya tak diimbangi dengan ketersediaan bahan baku yang memadai di dalam negeri. Saat ini, yang banyak tersedia adalah ahan baku boneka impor. Meski begitu, Nana tetap menilai bisnis boneka memiliki prospek yang cukup cerah. Karena sekarang ini, baru lima persen saja pasar yang terserap. Itu berarti, masih ada potensi 95% pasar yang bisa digali. Apalagi, sekarang impor boneka dibatasi.

Selain bisnis, ada satu hal yang menjadi keinginan terbesar Nana, yakni mendirikan rumah sakit gratis untuk kaum dhuafa. Nana ingin membuat sesuatu yang berguna untuk orang lain. Ia berharap bisa mewujudkan impiannya itu di usianya yang ke-50 tahun nanti.

SUMBER : Majalah Aulia (Inspirasi Wanita Mulia)

Facebook